Baccarat Dragon_Indonesia Lottery_Ranking of Asian Bookmakers_Football betting app_Online sports betting sites

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Bet365 saluran

SemoFootbFootball earlyall earlyga peFootball earlyngalaman yang dibagikan teman warganet kita Agi ini jadi refleksi, tentang betapa pernikahan itu kompleks dan butuh kesiapan matang secara mental. Nggak perlu ada yang mendikte, kamu perlunya nikah di usia berapa. Toh itu bakal jadi tanggung jawabmu sendiri. Nikah muda atau nggak, itu bukan jadi soal, tapi pastikan mental dan materimu sudah cukup siap menghidupi diri kalian, meski ya belum gede-gede amat karena serba mapan semua pun nggak jamin hidupmu mulus-mulus terus juga. Intinya, jangan sampai ngerepotin orang, apalagi bikin stres diri sendiri. Toh golnya menikah adalah bahagia bersama orang tersayang kan?

Menikah selamanya bukanlah perkara mudah. Sekilas memang terkesan indah, megah dan penuh dengan keseruan. Sayangnya orang terkadang lupa, di balik segala pernak pernik persiapan pernikahan, resepsi megah dan ucapan selamat yang meriah, ada tanggung jawab besar tengah menanti. Yup, menikah bukan sekadar ‘sah’ dan menghabiskan hidup bersama orang tercinta selamanya. It is way more than that!

Menikah itu bukan cuma soal usia sudah matang (yang sangat relatif juga). Kata orang, usia 30 udah matang banget buat nikah. Atau kata orang usia 20-an kemudaan. Padahal, mentalnya yang kudu benar-benar siap. Ya, soal materi pun penting, tapi bukan itu poin utamanya. Nggak mau kan di tengah-tengah perjalanan berumah tangga, ngambek minta dipulangin ke rumah orangtua saja?

Sosok yang kamu pilih akan menemanimu selamanya. Mulai dari belum ada anak, sampai anakmu kelak pergi masing-masing, mencari penghidupan sendiri di luar sana. Sisa hidupmu akan kamu habiskan bersama si dia yang kamu pilih. Sudah yakinkah dengan pilihanmu ini?

Kata siapa punya segala hal dan serba mapan jaminan semua akan mulus-mulus saja? Menikah itu bak roller coaster, siapkan dirimu untuk momen terbaik dan terburuk!

Nikah muda maupun menikah di usia ‘matang’, tetap harus siap apa pun risikonya.

“Bete sama pasangan, ya udah cerai aja atau selingkuh aja.” Duh, kalau pikirannya begini sih mending pikir 1000 kali lagi deh buat nikah karena sungguh itu bukan solusi tapi malah nambah masalah baru namanya.

Pernikahan itu lebih dari sekadar perkara seks legal. Yakinkan dan mantapkan diri dengan yang sekarang, apakah bakal tetap cinta sampai kelak nafsu sudah lenyap sama sekali?

Banyak alasan masing-masing orang memutuskan menikah. Atau memilih nggak menikah (dulu). Sebelum mencap orang ini itu, ada baiknya kamu ambil hikmahnya saja dulu dari pengalaman orang lain. Selain itu, mengenal baik-baik calon pasangan juga wajib kamu utamakan. Sudah kenal sifat doi luar dalam belum? Siapkah si doi hadapi kamu yang lagi ‘tantrum’? Atau siapkah kamu menghadapi ‘drama’ doi saat ngamuk? Ingat, pernikahan bukan selalu yang asyik doang lo!

Banyak yang bilang, menikah itu perkara menikahi sosok dia secara keseluruhan. Bersama keluarga besar dan segala macam baik buruknya. Tapi pastikan, sosok dia yang kamu pilih adalah sosok utama pilihanmu dan biarkan yang lainnya hadir sebagai pelengkap saja. Ya, masa kamu nikahin orang yang keluarganya kamu sayang tapi si doinya sendiri nggak kamu sayang sungguh-sungguh?

Tapi tetap, meski sudah tergolong mapan sehingga ‘berani’ memutuskan menikah, doi dan pasangan harus memulai segala sesuatunya dari 0, terlebih karena sang suami awalnya bekerja di Palembang.

Bicara soal pernikahan, ada pandangan menarik dari salah seorang blogger, Agi Tiara Pranoto, yang beberapa waktu lalu membagikan pengalaman dan pendapatnya tentang pernikahan melalui Instagram Story pribadinya, junoaggy. Bukan sekadar berbagi soal lika-liku pernikahan, Agi juga membagikan pendapatnya tentang ‘buru-buru nikah  karena lelah bekerja‘ serta tentang realita nano-nano menikah muda, meski kerja sudah ada dan rumah sudah punya. Semoga ulasan kali ini bisa membuka wawasan kamu, bahwa pernikahan bukan semata soal muda atau tua, mapan atau belum dan sebagainya ya.