Betting platform_Professional betting_Baccarat Strategy Forum_Casino Baccarat

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Bet365 saluran
Mungkinkah Sekar melihat hantu? 

Yang ada di pikiranku adalah pergi dan lari. Aku nggak peduli dengan motor yang kunaiki. Aku turun dan lari sekencang-kencangnya. Kutinggalkan begitu saja motor cicilan yang masih belum lunas itu.

“Iya, udah sampai nih.” Sekar turun dari bocengan. “Makanya, tadi saya bilang bapak nggak usah kesal.”

*Hipwee Premium kini hadir dengan ragam baru. Bukan cuma menyajikan cerita horor yang riil, Hipwee Premium akan menyapamu dalam bentuk cerita fiksi. Seperti edisi kali ini yang menceritakan seorang tokoh yang berprofesi sebagai ojol (ojek online). Tutup pintu kamarmu dan baca doa dulu sebelum membaca. Semoga kamu ‘selamat’ sampai ujung cerita~

“Bagaimana bisa mbak Sekar?” Aku masih terus mendesak jawaban yang masuk akal.

“Coba deh lihat ke bawah, Pak Joko,” tutur Sekar.

“Mba Sekar, rumah pacarnya yang sebelah mana?” tanyaku lagi.

Namun, aku segera menepis pikiran itu. Bagiku, hantu itu tak ada. Selama Sekar masih menapak pada tanah, maka ia adalah manusia. Mungkin penumpangku satu ini cukup nyentrik. Makanya, ia kerap bertindak ganjil.

Kuburan!

“Betul, Mbak. Kita lo sudah melewati gang ini tadi. Alamat pacar Mbak Sekar sudah benar?”

“Ini rumah pacarku, Pak Joko. Hihihihi….” kata Sekar dengan tersenyum.

Aku yang semula menahan sabar, akhirnya menghela napas. Aku yakin, wajahku sudah masam. Kulihat dari kaca spion, Sekar masih duduk tenang di boncengan. Bahkan, ia sempat bersenandung ringan dengan senyum tipis yang nggak hilang-hilang. Sepertinya, ia benar-benar sedang kasmaran. Aku tahu dia senang karena bakal bertemu sang pacar, tapi aku juga patut kesal kalau ia cuma bisa senyum. Ia tampak nggak peduli, meski aku sudah pusing mencari alamat yang ia tuju.

Setelah tenang, aku menceritakan awal kejadian yang kualami. Bapak yang mengaku bernama Sarmin, tinggal di sekitar pemakaman daerah Samaan tampak tak terkejut. Ia mengatakan, tidak sedikit orang yang sudah dijahili hantu Sekar. Konon, ada seorang lelaki yang meninggal dikuburkan di pemakaman itu. Kematiannya masih jadi misteri, tapi diduga cukup tragis.

Seperti arahannya, aku melihat ke bawah. Sontak mataku membelalak. Rasanya kepalaku dihantam batu besar hingga membuatku tersentak. Jalan aspal yang kupijak seketika berubah. Kakiku menapak tanah pemakaman. Ketika mengedarkan pandang ke sekitar, bukan lagi gang kecil yang terlihat. Semua berubah jadi batu-batu nisan.

“Pak Joko, sini saya bantu.”

****

Pukul 22.00 WIB. Aku melirik jam di ponsel dengan mata membelalak. Gila! batinku. Perjalanan ini seharusnya tak memakan waktu lebih dari setengah jam. Jika dipikir-pikir, aku sudah sampai di tempat. Sementara itu, aku malah masih di Jalan Soekarno Hatta. Aneh.

“Jangan kesal gitu dong, Pak,” ucap Sekar.

“Hah?” Jelas saja, aku kaget.

Aku makin tak paham dengan ucapan Sekar. Posisi kami masih di pinggir jalan di sebuah gang. Sesuai aplikasi maps, ini memang titik pengantaran, tapi seperti kata Sekar, rumah pacarnya nggak di sini. Lantas, bagaimana bisa ia tiba-tiba mengatakan kami sudah sampai di tempat tujuan?

Semakin mendekat, aku merasa sangat lega bahwa orang itu manusia sungguhan. Ia adalah seroang bapak sekitar umur 55 tahunan, berdiri di pintu masuk pemakaman.

“Ah!” Aku menjerit. Aku jatuh terjerembab di atas nisan.

Entah perasaanku atau kompleks pemakanan ini memang luas, aku tak melihat ujung dari makan ini. Meskipun terus berlari, aku tidak menemukan jalan keluar. Di tengah rasa putus asa dan ketakutan, aku mendengar seseorang memanggil, bukan Sekar. Aku mencari-cari suara itu dan kulihat bayangan orang di kejauhan. Tanpa pikir panjang, aku menuju ke arahnya.

Sialan, umpatku. Itu suara Sekar. Masih tak berani menengok ke belakang atau ke sumber suara, aku langsung bangkit dan kembali lari.

“Loh, kita udah sampai kok, Pak,” kata Sekar.

Keringat dingin menghiasi dahiku. Sementara itu, napasku terengah-engah. Semakin menjauh, suara Sekar tetap terdengar. Rasanya, suara tawa Sekar masih sangat dekat. Seakan-akan ia mengikutiku.

“Ah, masa sih, Pak?” Sekar malah balik bertanya. Kali ini, ia bertanya dengan selingan tawa kecil yang sedikit menggoda.

Ketika Sekar meminta rute jalan yang memutar, aku tahu kalau perjalanan yang membutuhkan waktu 15 menitan, bisa jadi molor sampai 30 menit lebih. Kupikir sih, setengah sepuluh malam aku sudah menyelesaikan orderan. Setelah itu, aku bisa berburu orderan lain sebelum menjelang tengah malam. Sayangnya dugaanku salah. Perjalanan justru terasa amat lama.

Kamu cuma butuh sekali klik untuk menikmati konten ini secara utuh.

****

“Benar, Pak. Ikuti maps aja, Pak, nanti ketemu kok rumah pacar saya,” kata Sekar. Setiap kali menyebut kata ‘pacar’, nada suaranya berubah. Terdengar melengking dan… centil.

Aku mencermati lagi arahan jalan di maps. Walaupun sudah berkali-kali melihatnya, aku yakin sudah mengikuti rte dengan tepat. Namun, aku belum juga menemukan rumah pacar Sekar. Dari tadi aku cuma mutar-mutar di gang yang sama. Berkali-kali melewati toko kelontong dengan patung burung di sampingnya dan bengkel motor yang telah lama ditutup.

Sekar sendiri baru meninggal beberapa hari silam. Ia ditemukan di kamar kosnya dalam keadaan sudah tak bernyawa. Banyak kabar yang beredar, Sekar menyusul sang pacar karena tidak sanggup menahan kerinduan. Sejak itu, beberapa orang kerap dihantui sosok Sekar yang meminta diantarkan ke rumah sang pacar.

“Ada apa, Pak? Kok lari-lari di tengah makam? Malam-malam begini lagi,” tanya bapak itu.

“Betul kok, Pak,” jawab Sekar, masih dengan tawa kecil.

Aku menuntut kejelasan. Sejujurnya, aku sudah sangat lelah. Perjalanan ini telah menguras energiku. Sejak awal menjemput Sekar, aku sudah menghabiskan banyak waktu untuk sekadar menemukan alamatnya. Tak kubayangkan, mencari alamat pacarnya pun sesulit ini. Rasa lelah ini akhirnya bercampur dengan kesal.

Bukan di gang perumahan, tapi aku ada di kuburan | Illustration by Hipwee

Sekar nggak menjawab. Menatapku sebentar dan masih dengan senyum yang tak bisa kusebut manis. Senyuman misterius yang mengandung kengerian sekaligus. Meskipun tak berkata apa-apa, Sekar naik kembali ke atas motor. Enggan berlama-lama, aku langsung memacu lagi motor menuju titik pengantaran.

Aku yang masih terengah-engah, hanya bisa duduk. Dalam hati, aku terus mengucapkan syukur.

“Mbak, itu kan…” kataku dengan perasaan bingung dan pikiran yang bertanya-tanya. “…Kan nggak ada siapa-siapa,”

“Udah, nggak ada apa-apa mba Sekar. Ayo naik motor lagi. Saya antarkan ke tempat tujuan,” kataku dengan harapan ia sadar dari ketermenungannya.

Harap berlangganan  atau beli akses artikel ini untuk melanjutkan

“Mbak Sekar, ini kok nggak sampai-sampai, ya?” tanyaku lagi.

“Ituu… Pak…. Itu…. Tadi….” Aku berusaha menjelaskan dengan napas tersengal.

Sulit cari alamat rumah pacar Sekar | Illustration by Hipwee

Sekar semakin menunjukkan gelagat aneh. Aku cuma bisa bengong sewaktu ia menunjuk ke pinggir jalan. Dia bilang, seseorang memanggilnya. Namun, berbeda dengan apa yang dikatakannya, aku tak melihat apa-apa.

Aku memilih tak menanggapi dan fokus mengotak-atik aplikasi maps. Mungkin aplikasi maps-ku sedang gangguan. Tapi, titik aplikasi maps-ku sama seperti semula. Titik pengantaran berhenti di gang ini, tapi Sekar bilang daerah ini bukan lokasi rumah pacarnya.

“Mbak Sekar, benar ini jalannya kan?” tanyaku memastikan.

Jalan Sumbersari, Kota Malang, Pukul 21.00 WIB.

“Bapak nggak lihat? Itu lo, Pak!” kata Sekar dengan tetap menunjuk ke arah lahan kosong di pinggir jalan.